https://ejournal.ust.ac.id/Rajawali/issue/feedRAJAWALI2026-11-03T08:31:10+00:00Open Journal Systems<p>Rajawali adalah Jurnal Filsafat yang memuat kajian akademik tentang proses mencari kebenaran mulai dari manusia berspekulasi dengan pemikirannya tentang semua hal, selanjutnya dari berbagai spekulasi disaring menjadi beberapa buah pikiran yang dapat diandalkan. dan buah pikiran tadi menjadi titik awal dalam mencari kebenaran (penjelajahan pengetahuan yang didasari kebenaran), kemudian berkembang sebagai ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, hukum, politik, dan lain-lain.</p>https://ejournal.ust.ac.id/Rajawali/article/view/7127HUBUNGAN KECERDASAN BUATAN DAN KECERDASAN MANUSIA 2026-11-03T02:37:52+00:00Alfonsus Ara[email protected]Yulius Susilo[email protected]Bertolomeus N. A. P. Ngita[email protected]<p>Akal manusiawi selalu tergerak untuk mengetahui, memikirkan dan merenungkan semua realitas yang dilihat dan dialaminya di setiap peristiwa kehidupan. Berkat kecerdasan akal, manusia bisa merumuskan ilmu pengetahuan dan menghasilkan teknologi, sehingga kehidupan manusia dipermudah, menjadi sangat praktis dan instan. AI merupakan hasil perkembangan akal budi manusia. AI tidak dapat disamakan dengan kecerdasan manusia karena tidak memiliki kesadaran diri, kebebasan, hati nurani, maupun tanggung jawab moral. Sebab pada dasarnya kecerdasan buatan merupakan instrumen yang lahir dari kemampuan intelektual manusia dan tidak memiliki kesadaran diri, kehendak bebas, maupun tanggung jawab moral. Karena itu, penggunaan kecerdasan buatan harus diarahkan secara etis demi kebaikan bersama dan penghormatan terhadap martabat manusia. Kecerdasan manusia memiliki dimensi personal, moral, spiritual, dan relasional yang menjadi dasar martabatnya sebagai pribadi. Oleh karena itu, manusia tetap menjadi subjek moral yang bertanggung jawab mengarahkan penggunaan AI secara etis demi kebaikan bersama, penghormatan terhadap martabat manusia, dan terwujudnya kehidupan yang lebih manusiawi.</p>2026-10-25T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 RAJAWALIhttps://ejournal.ust.ac.id/Rajawali/article/view/7128PERKAWINAN LINTAS SUKU TANPA MANGAIN MARGA PADA MASYARAKAT BATAK TOBA DI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU: STUDI TENTANG LEGITIMASI DAN NEGOSIASI ADAT SERTA HAK BUDAYA2026-11-03T02:47:59+00:00Yustinus Slamet Antono[email protected]Markus Nicodemus Panggabean[email protected]Gonti Simanullang[email protected]<p>Tesis ini mengkaji praktik perkawinan lintas suku tanpa mangain marga pada masyarakat Batak Toba perantauan di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, yang menimbulkan persoalan mengenai penerimaan dan legitimasi adat, batas keanggotaan marga, serta akses terhadap hak budaya dalam kerangka Dalihan Natolu. Penelitian ini merumuskan masalah tentang bagaimana identitas Batak Toba dipertahankan dan bagaimana posisi adat serta hak budaya dinegosiasikan ketika mekanisme mangain marga tidak dilaksanakan. Penelitian bertujuan menganalisis hubungan antara identitas kultural, struktur marga, Dalihan Natolu, legitimasi perkawinan, dan pemenuhan hak budaya dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis melalui studi kepustakaan dan wawancara lapangan dengan masyarakat Batak Toba perantauan yang mengalami praktik tersebut serta tokoh adat. Analisis didukung oleh teori fungsionalisme struktural Talcott Parsons, konstruksi realitas sosial Peter L. Berger, dan identitas sosial Henri Tajfel dan John Turner. Temuan menunjukkan bahwa perkawinan lintas suku tanpa mangain marga tidak serta-merta menghapus identitas Batak Toba, tetapi dapat membatasi pengakuan genealogis, posisi dalam struktur adat, pelaksanaan peran adat, dan akses terhadap hak budaya. Adat tetap dipertahankan melalui proses negosiasi, penyederhanaan, simbolisasi, serta legitimasi yang bersumber dari restu keluarga, pemberkatan Gereja, penerimaan komunitas, dan praktik sosial sehari-hari. Kebaruan tesis ini terletak pada pemahaman perkawinan tersebut sebagai bentuk legitimasi adat yang parsial dan bertingkat, yang memperlihatkan bahwa keberlanjutan identitas kultural tidak selalu sejalan dengan keutuhan posisi adat dan pemenuhan hak budaya.</p>2026-10-27T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 RAJAWALIhttps://ejournal.ust.ac.id/Rajawali/article/view/7129HARTA BENDA PAROKI UNTUK AMAL KASIH BAGI ORANG MISKIN2026-11-03T03:03:23+00:00Higianes Indro Pandego[email protected]Asrot Purba[email protected]Yohanes Wahyuvega Wandariyan[email protected]Norbetus Noho Tukan[email protected]<p>Pengelolaan harta benda Gereja tidak dapat dipisahkan dari misi keselamatan jiwa-jiwa (<em>salus animarum suprema lex</em>). Kanon 1254 §2 KHK 1983 menegaskan bahwa harta benda Gereja diarahkan untuk penyelenggaraan ibadat ilahi, pemeliharaan yang layak bagi para pelayan Gereja, serta pelaksanaan karya kerasulan dan amal kasih, khususnya bagi mereka yang miskin. Tulisan ini menghadirkan analisi yuridis dan pastoral pengelolaan harta benda paroki dalam rangka pelaksanaan amal kasih bagi orang miskin. Melalui refleksi yuridis-pastoral dalam terang Kanon 1254 §2 KHK 1983 dan Arah Dasar (ARDAS) Keuskupan Agung Palembang Tahun 2022 tulisan ini menegaskan pentingnya tindakan administrative atas harta benda Gereja bagi orang miskin yang harus tetap sejalan dengan norma Kodeks (KHK 1983) dan semangat dasar (spiritualitas) ARDAS KAPal. Penting di sini dipenuhi prinsip: prosedur legal (yuridis) yang benar tanpa melupakan panggilan realisasi kasih kristiani kepada semua orang. Dewan Keuangan dan Dewan Pastoral Paroki harus dilibatkan oleh Parokus untuk menjaga akuntabilitas ini.</p>2026-10-27T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 RAJAWALIhttps://ejournal.ust.ac.id/Rajawali/article/view/7130CARA MENCINTAI ALLAH: SUATU KAJIAN SPIRITUALITAS YOHANES LEO DEHON2026-11-03T03:14:50+00:00Yohanes Anjar Donobakti[email protected]Basillius Alfa Kristuaji[email protected]Fransiskus Xaverius Marmidi[email protected]<p>Artikel ini bertujuan untuk memilih dan mencintai Allah serta melayani sesama. Allah sangat mencintai manusia. Cinta Allah kepada manusia tidak berhenti pada awal penciptaan dunia, melainkan Cinta Allah itu selalu mengalir kepada manusia dengan mengutus para nabi hinga mengutus Putera-Nya sendiri, Yesus Kristus, datang ke dunia dan tinggal bersama manusia. Yesus Kristus memberikan cinta-Nya dengan seluruh hidup-Nya kepada semua manusia supaya manusia selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat. Dalam Yesus Kristus, Allah telah menunjukan kepada manusia tentang kata dan tindakan mencintai serta mengundang manusia mencintai Allah dan sesamanya. Ajaran dan teladan Yesus ini telah menyentuh, menyadarkan, dan menggerakkan salah satu tokoh dalam Gereja Katolik, yaitu Yohanes Leo Dehon untuk mencintai Allah dengan cara mencintai dan melayani sesama. Cinta kepada Allah dan sesama itu perlu diwujudnyatakannya dalam tindakan nyata.</p>2026-10-27T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 RAJAWALIhttps://ejournal.ust.ac.id/Rajawali/article/view/7131DEKONSTRUKSI KEBENARAN ABSOLUT DAN RELEVANSINYA URAIAN DESKRIPTIF KRITIS ATAS PEMIKIRAN LUDWIG ANDREAS VON FEUERBACH2026-11-03T03:29:00+00:00Hieronymus Simorangkir[email protected]Cook Noris Valentino Sitepu[email protected]Laurentius Tinambunan[email protected]<p>This paper presents a critical analysis of the relevance of the deconstruction of absolute truth in the philosophy of Ludwig Andreas von Feuerbach (1804-1872) as a critique of the concept of absolute truth in the Absolute Idealism of Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Hegel conceives truth as a rational totality culminating in the Absolute Spirit, in which reality and truth are understood as the foundation and ultimate goal of the dialectical process. Feuerbach rejects this metaphysical conception by restoring philosophical reflection to the concrete, historical, and sensuous human being. Through the concepts of projection, alienation, and Umkehrung (reversal), he argues that God, Spirit, and the Idea are projections of human essence that are subsequently regarded as independent realities. Consequently, truth is no longer understood as an absolute metaphysical reality but as the outcome of human relationships with oneself, others, nature, and historical existence.The analysis demonstrates that Feuerbach's philosophy possesses both strengths and limitations. His critique exposes the tendency to absolutize religious, political, and ideological concepts while opening space for more critical and humanistic reflection. However, reducing theology to anthropology raises philosophical questions concerning the transcendent dimension and the normative foundation of truth. Despite these limitations, Feuerbach's deconstruction of absolute truth remains relevant in the contemporary world because it encourages openness to dialogue, interpretation, critical reassessment, and the advancement of knowledge. Accordingly, truth is understood as a dynamic and historical reality that remains open to new experiences while preserving human dignity and critical reflection.</p>2026-10-27T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 RAJAWALIhttps://ejournal.ust.ac.id/Rajawali/article/view/7134YESUS ADALAH GEMBALA YANG BAIK (Yohanes 10: 11-21) 2026-11-03T08:19:19+00:00Fransiskus Xaverius Marmidi[email protected]Nofrendi Sihaloho[email protected]<p>Setiap pemimpin adalah gembala yang menuntun kawanannya ke padang rumput yang baik. Gembala yang baik memastikan domba-dombanya merasa aman dari ancaman pencuri dan serigala. Demikian juga Yesus adalah Gembala yang baik yang menuntun umat-Nya. Yesus sungguh-sungguh mengenal domba-domba-Nya, karena mereka mendengar suara-Nya. Sebagai Gembala yang baik, Yesus memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba supaya mereka memperoleh hidup. Kepemimpinan yang diajarkan Yesus ini menjadi model bagi para pemimpin negara maupun pemimpin Gereja. Seorang gembala harus berbau domba, agar dapat mewujudkan kesejahteraan dan kebaikan bersama (bonum commune).</p>2026-10-29T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 RAJAWALIhttps://ejournal.ust.ac.id/Rajawali/article/view/7135IMPLEMENTASI PROFESI GURU PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK PEGAWAI NEGERI SIPIL TERHADAP PARTISIPASI DALAM HIDUP MENGGEREJA2026-11-03T08:31:10+00:00Asrot Purba[email protected]Imanuel Purba[email protected]Yohanes Anjar Donobakti[email protected]<p style="margin: 0cm; text-align: justify;"><span style="font-family: 'Georgia',serif;">Guru Pendidikan Agama Katolik (PAK) Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak hanya memiliki tanggung jawab profesional dalam mendidik dan mengajarkan iman Katolik di sekolah, tetapi juga dipanggil untuk menjadi saksi iman serta berpartisipasi aktif dalam kehidupan menggereja. Namun, profesionalitas sebagai pendidik belum selalu diikuti oleh pemahaman dan penghayatan yang mendalam terhadap panggilan pastoral dan keterlibatan dalam kehidupan Gereja. Penelitian ini bertujuan mengkaji implementasi profesi Guru PAK PNS serta bentuk partisipasi, tantangan, dan kontribusinya dalam kehidupan menggereja di Paroki Santo Joseph, Jalan Kain Batik, Pematangsiantar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan deskriptif-kritis berdasarkan perspektif Kitab Hukum Kanonik 1983. Pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, observasi, dan wawancara terhadap tujuh Guru PAK PNS dengan menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Guru PAK PNS memahami profesinya sebagai panggilan dan perutusan Kristiani yang bersumber pada spiritualitas Yesus Kristus. Partisipasi mereka diwujudkan terutama melalui pelayanan liturgi, pewartaan Sabda Allah (kerygma), dan keterlibatan sukarela dalam kehidupan komunitas paroki. Kebaruan penelitian ini terletak pada kajian integratif mengenai profesionalitas, kompetensi, spiritualitas, dan partisipasi pastoral Guru PAK PNS dalam kehidupan menggereja pada konteks paroki lokal, dengan memperhatikan perspektif yuridis-pastoral Kanon 804 §2. Penelitian ini menegaskan pentingnya sinergi antara guru PAK dan para gembala Gereja untuk mengembangkan keterlibatan umat yang semakin aktif dan bertanggung jawab.</span></p>2026-10-29T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 RAJAWALI