https://ejournal.ust.ac.id/index.php/ALUR/issue/feedALUR : Jurnal Arsitektur2025-12-29T05:39:05+01:00Dr. Anna Lucy Rahmawati[email protected]Open Journal Systems<p>Jurnal Arsitektur (ALUR) UNIKA Santo Thomas Sumatera Utara mempublikasikan artikel ilmiah di bidang Arsitektur, termasuk perancangan arsitektur, perencanaan kota dan wilayah, desain interior, serta perancangan lansekap. Jurnal ini juga menerima penelitian terkait disiplin ilmu yang memiliki keterkaitan erat dengan arsitektur. Artikel yang diterbitkan mencakup berbagai pendekatan, baik teoritis maupun terapan, yang berkontribusi pada pengembangan ilmu dan praktik arsitektur.</p>https://ejournal.ust.ac.id/index.php/ALUR/article/view/4876PROPORSI ELEMEN GEOMETRI PADA RUMAH TONGKONAN 7 KOLOM DI DESA KE’TE’ KESU’, KABUPATEN TORAJA UTARA2025-09-08T10:32:01+02:00Aziz Haris[email protected]Dr. Dimyati, ST., MT.[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola proporsi antar elemen-elemen geometri yang terdapat pada rumah adat Tongkonan 7 kolom di Desa Ke’te’ Kesu’, baik dilihat dari tampak depan, tampak samping, maupun potongan bagian dalam bangunan. Rumah Tongkonan dipilih karena memiliki struktur geometris yang khas dan merupakan simbol identitas masyarakat Toraja. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mendeskripsikan serta menganalisis hasil observasi lapangan, yang kemudian diolah untuk menemukan hubungan proporsional antar elemen-elemen tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah Tongkonan 7 kolom di Desa Ke’te’ Kesu’ memiliki pola proporsi yang bervariasi, ada yang repetitif namun juga ada yang tidak beraturan pada beberapa elemen arsitekturalnya. Kajian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah arsitektur tradisional Indonesia serta menjadi acuan awal bagi penelitian lanjutan mengenai proporsi rumah tradisional maupun studi geometri arsitektur sejenis.</p>2025-12-29T00:00:00+01:00Copyright (c) 2025 ALUR : Jurnal Arsitekturhttps://ejournal.ust.ac.id/index.php/ALUR/article/view/4890MAKNA PSIKOLOGIS DI BALIK ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL BALI 2025-09-08T10:21:47+02:00Amellisa Mertadana[email protected]<p style="text-align: justify; margin: 10.0pt 0cm 0cm 0cm;"><em><span style="font-size: 9.0pt; font-family: 'Tahoma',sans-serif; color: black;">This research discusses the application of Bali's traditional houses in urban environments, specifically in the Navy Housing area of Semolowaru Bahari, Surabaya, and how this can maintain emotional functions while enhancing the psychological well-being of its inhabitants through design approaches. In a non-agricultural society, there has been a significant change in the use of space, such as the elimination of the functions of granaries and animal pens, as well as adjustments to the positions of traditional elements such as Bale Sakepat. This study uses a descriptive qualitative method with an analysis that combines spatial and psychological aspects based on architectural psychology theory. The findings show that the spatial arrangement, choice of materials, and orientation of the building retain strong emotional meanings, capable of creating a sense of security, strengthening relationships among family members, and providing sensory comfort that contributes to emotional stability and personal identity. The adaptation of this traditional architectural design proves to still be relevant and functions well without diminishing its psychological and cultural values, so traditional Balinese houses remain meaningful spaces that are harmonious with modern lifestyles.</span></em></p>2025-12-29T00:00:00+01:00Copyright (c) 2025 ALUR : Jurnal Arsitekturhttps://ejournal.ust.ac.id/index.php/ALUR/article/view/5039SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW: FENOMENA GENTRIFIKASI PADA KAWASAN CAGAR BUDAYA 2025-09-08T09:54:22+02:00Maffyra Binar Firstya Mutiara[email protected]Arif Budi Sholihah[email protected]Revianto Budi Santosa[email protected]<p><em>Gentrification transforms low-income settlements into upper-middle-class areas, often displacing original residents. In cultural heritage zones, this leads to changes in the character of historic buildings and community identity. This study investigates gentrification's processes and impacts in heritage areas through a Systematic Literature Review, using data from Google Scholar, ScienceDirect, and ResearchGate via the Harzing's Publish or Perish tool. Results reveal both positive and negative impacts. Positively, gentrification can enhance the quality of historic environments, boost local economies, and increase social diversity. Negatively, it may cause physical alterations, commercialization, and the erosion of local identity. Tourism and commercialization are key drivers of these changes. Thus, effective regulation and monitoring are crucial to preserve heritage values and mitigate adverse effects of gentrification.</em></p>2025-12-29T00:00:00+01:00Copyright (c) 2025 ALUR : Jurnal Arsitekturhttps://ejournal.ust.ac.id/index.php/ALUR/article/view/5276ANALISIS EFEKTIVITAS ELEMEN WAYFINDING TERHADAP POLA SIRKULASI PENUMPANG PADA AREA CONCOURSE STASIUN MANGGARAI 2025-09-08T11:05:33+02:00Tanjaya[email protected]Anisza Ratnasari[email protected]<p>Stasiun Manggarai sebagai salah satu simpul transit utama di Jakarta menghadapi tantangan kepadatan penumpang dan konflik sirkulasi akibat sistem <em>wayfinding</em> yang belum sepenuhnya efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara visibilitas spasial, efektivitas elemen <em>wayfinding</em>, dan perilaku aktual pengguna dalam navigasi ruang. Metode yang digunakan meliputi analisis <em>visual graph</em> (VGA) berbasis pendekatan <em>space syntax</em>, observasi <em>signage</em>, serta <em>behavioral mapping</em> berbasis <em>time-lapse</em> dan dokumentasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa titik-titik dengan visibilitas rendah cenderung menjadi area <em>crossing</em> dan stagnasi karena minimnya informasi navigasi yang terbaca. Elemen <em>signage</em> yang tidak konsisten dan struktur spasial yang membingungkan menyebabkan pengguna lebih mengandalkan intuisi visual daripada mengikuti rute formal. Dengan temuan ini, riset memberikan rekomendasi desain yang menekankan integrasi antara elemen spasial dan navigasi visual sebagai strategi untuk meningkatkan efisiensi sirkulasi dan mengurangi konflik pergerakan. Diharapkan hasil ini menjadi dasar evaluasi desain <em>wayfinding</em> pada simpul transportasi padat lainnya.</p> <p> </p>2025-12-29T00:00:00+01:00Copyright (c) 2025 ALUR : Jurnal Arsitekturhttps://ejournal.ust.ac.id/index.php/ALUR/article/view/5345POLA PERKEMBANGAN KAWASAN BERDASARKAN MORFOLOGI RUANG DI KECAMATAN NGALIYAN KOTA SEMARANG2025-09-08T11:15:10+02:00Ratna Ayu Permatasari Arief Rahman[email protected]Andarina Aji Pamurti[email protected]Dwi Prabowo[email protected]<p>Kecamatan Ngaliyan merupakan kawasan pinggiran barat Kota Semarang yang mengalami pertumbuhan pesat karena lokasinya yang strategis dan dekat dengan pusat industri serta pengembangan BSB. Pertumbuhan penduduk sebesar 10,45% pada 2015–2019 meningkatkan kebutuhan lahan hunian, yang berdampak pada kondisi fisik dan tata ruang kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola perkembangan kawasan berdasarkan morfologi ruang di Kecamatan Ngaliyan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan spasial. Variabel yang dianalisis meliputi penggunaan lahan, pola jaringan jalan, pola bangunan, serta perkembangan bentuk kawasan selama 10 tahun terakhir. Temuan dalam penelitian ini adalah gambaran perkembangan bentuk morfologi di Kawasan pemukiman Kecamatan Ngaliyan dalam kurun waktu 10 tahun.</p>2025-12-29T00:00:00+01:00Copyright (c) 2025 ALUR : Jurnal Arsitekturhttps://ejournal.ust.ac.id/index.php/ALUR/article/view/5275EVALUASI PENERAPAN PRINSIP ERGONOMI PADA DESAIN INTERIOR KAFE LAFERA SPACE PEKANBARU 2025-09-08T11:10:12+02:00Achnia Tiffany[email protected]Muhammad Rasyidul Ilmi[email protected]Musyaffa Rifqi Harimardika[email protected]Intan Agustina Pratiwi[email protected]Hannisa Handri[email protected]<p>Lafera Space Pekanbaru merupakan salah satu kafe bergaya eklektik yang berjarak sekitar 100 meter dari Universitas Riau. Lokasi yang strategis ini menjadikan kafe tidak hanya sebagai tempat berkumpul, tetapi juga dimanfaatkan mahasiswa untuk bekerja dan menyelesaikan tugas, dengan durasi penggunaan berkisar antara 1 hingga lebih dari 2 jam (Shelty, 2022). Oleh karena itu, desain interior kafe perlu memperhatikan tidak hanya aspek estetika yang menarik, tetapi juga aspek fungsionalitas melalui penerapan prinsip ergonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana prinsip-prinsip ergonomi diterapkan dalam interior Lafera Space, khususnya pada elemen furnitur, pencahayaan, sirkulasi, dan sistem penghawaan. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan, dokumentasi visual, serta pengukuran langsung dimensi furnitur. Data yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan standar ergonomi yang dikemukakan oleh Neufret serta Dartford. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar elemen interior <em>indoor</em> sudah memenuhi prinsip ergonomi. Namun demikian, pada area <em>outdoor </em>masih ditemukan beberapa kekurangan, khususnya terkait ketinggian meja dan kenyamanan kursi. Secara umum, pencahayaan serta pengaturan tata ruang telah mendukung aktivitas pengunjung dengan baik, meskipun beberapa aspek tetap perlu diperbaiki guna meningkatkan kenyamanan secara menyeluruh.</p>2025-12-29T00:00:00+01:00Copyright (c) 2025 ALUR : Jurnal Arsitekturhttps://ejournal.ust.ac.id/index.php/ALUR/article/view/5908KONSEP HUNIAN CO – LIVING DENGAN TEMA ARSITEKTUR ECO-FRIENDLY DI KECAMATAN TANJUNG MORAWA KABUPATEN DELI SERDANG2025-12-29T05:14:45+01:00Muhammad Khaidir[email protected]Ina Triesna Budiani[email protected]<p>Tanjung Morawa, sebagai kawasan industri utama di Kabupaten Deli Serdang, menghadapi tantangan meningkatnya kebutuhan hunian layak dan terjangkau di tengah keterbatasan daya beli masyarakat. Permasalahan ini menjadi penting untuk segera ditanggapi, terutama mengingat pesatnya perkembangan kawasan industri yang turut memicu urbanisasi dan peningkatan jumlah pekerja yang membutuhkan tempat tinggal yang memadai. Konsep hunian <em>co-living</em> ditawarkan sebagai solusi alternatif yang efisien secara ruang dan biaya, dengan sistem berbagi fasilitas yang mendorong efisiensi lahan dan pemanfaatan sumber daya secara kolektif. Untuk mendukung keberlanjutan, konsep ini dipadukan dengan prinsip arsitektur ramah lingkungan (<em>eco-friendly</em>), melalui penerapan sistem pasif seperti pencahayaan alami dan ventilasi silang, pemanfaatan atap hijau, penggunaan energi terbarukan, material lokal yang ramah lingkungan, serta pelestarian vegetasi eksisting. Rancangan ini diharapkan dapat menjadi solusi hunian yang adaptif, efisien, dan berwawasan lingkungan di tengah perkembangan kawasan industri.</p>2025-12-29T00:00:00+01:00Copyright (c) 2025 ALUR : Jurnal Arsitektur