Pengembangan Kakao Rakyat di Dataran Tinggi Sumatera Utara

Authors

  • Nurdin Sitohang universitas katolik santo thomas

Keywords:

ketinggian, temperatur, klon, biji kering, petani

Abstract

Kakao diperdagangkan secara global terutama dalam bentuk coklat, yang memberikan keuntungan bagi petani dan industri makanan di berbagai negara produsen. Produktivitas kakao rakyat di Indonesia masih rendah (±497 kg-1ha-1tahun-1) dengan mutu biji kurang baik, karena pengelolaan sederhana, dan gangguan hama penggerek buah kakao dan helopeltis, serta penyakit  busuk buah. Faktor ketinggian tempat dan iklim juga mempengaruhi produktivitas dan mutu, pertumbuhan optimal pada ketinggian 0–600 m dpl, mutu biji terbaik pada ketinggian 400–800 m dpl, sehingga ketinggian ideal <800 m dpl. Altitude mempengaruhi suhu, tekanan udara, radiasi, dan curah hujan, yang berdampak terhadap lama pematangan buah (5-6 bulan). Biji bermutu baik berbobot 1,0-1,2 g per biji dan seragam. Budidaya kakao di dataran tinggi Sumatera Utara berkembang pada ketinggian >800 m dpl di sekitar Danau Toba khususnya di kabupaten Karo, Dairi, Tapanuli Utara, Samosir dan Humbang Hasundutan.  Ternyata pada ketinggian 700-1.350 m dpl tanaman kakao masih tumbuh dan berkembang dengan mutu buah yang baik. Untuk revitalisasi dan pengembangan kakao di dataran tinggi perlu menggunakan klon unggul, menerapkan panen sering, pangkasan, sanitasi, pemupukan, perlindungan buah, pascapanen (fermentasi dan pengeringan).  Untuk hilirisasi dan komersialisasi maka biji kering perlu diolah lebih lanjut menjadi pasta kakao (liquor), mentega kakao (butter), dan bubuk kakao (powder).

References

Abdoellah, S. dan Poeloengan, Z. 1991. Hasil Inventarisasi dan Evaluasi Sumberdaya Lahan untuk Budidaya Kakao di Indonesia. Prosiding Konferensi Nasional Kakao III, Pusat Penelitian Perkebunan Medan – Pusat Penelitian Perkebunan Jember – Asosiasi Kakao Indonesia, ISBN 979-8168-01-1, Medan 7-9 Maret 1991, hal. 1-23.

Afrizon. 2013. Pengkajian Pengendalian Penggerek Buah Kakao (PBK) di Provinsi Bengkulu. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian – Bengkulu.

Anon. 1998. Pengenalan dan Pengendalian Hama-Penyakit Tanaman Kakao. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Jember. No. Seri:01.004.98. 28 hal.

Arhan, A., Halid, I., dan AR, T.S.A. 2025. Dampak Program Revitalisasi Kakao Terhadap Pengembangan Kelompok Tani Kaitannya Terhadap Pendapatan di Kecamatan Kodeoha Kabupaten Kolaka Utara. SINTA Journal (Science, Technology, and Agricultural), 6(2), 265-280.

Arsyad, M. and Yusuf, S. 2008. Assessing the impact of oil prices and interest rate policies: The case of Indonesian cocoa.

Azantaro. 2021. Samosir Regency in Figures 2021. BPS-Statistics of Samosir Regency, ISSN: ISSN: 2301-0976, 438 p.

Ditjenbun. 2022. Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Kakao 2021-2022. Jakarta.

Djamali. 2000. Manajemen Usahatani. Departemen Pendidikan Nasional (DEPDIKNAS). Jakarta.

Fauji, A. 2020. Penerapan sni biji kakao dalam rangka meningkatkan mutu biji kakao rakyat. Warta: Pusat Penelitian Kopi Dan Kakao Indonesia, 32(3), 22-26.

Harianja, R.H. 2019. Humbang Hasundutan Regency in Figures 2019. BPS-Statistics of Humbang Hasundutan Regency, ISSN: 2087-6459, 435 p.

Hasibuan, A.M., Nurmalina, R., dan Wahyudi, A. 2012. Analisis kinerja dan daya saing perdagangan biji kakao dan produk kakao olahan Indonesia di pasar internasional. Jurnal tanaman industri dan penyegar, 3(1), 57-70.

ICCO. 2021. International Cocoa Organization. Quarterly Bulletin of Cocoa Statistics

Khairudin, K., Saty, F.M. dan Supriyatdi, D. 2015. Analisis Faktor-faktor Adopsi Metode PsPSP pada Penanggulangan Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Pekon Kuripan. J Agro Industri Perkebunan : 3(1): 34-46.

Kongor, J.E., Owusu, M., and Yeboah, C.O. 2024. Cocoa Production in the 2020s: Challenges and Solutions. CABI Agriculture and Bioscience, 5(1), 102. https://doi.org/10.1186/s43170-024-00310-6

Matanari, A. 2019. Dairi Regency in Figures 2019. BPS-Statistics of Dairi Regency, ISSN: 2354-578X, 536 p.

Mentan RI. 2017. Pedoman Produksi, Sertifikasi, Peredaran dan Pengawasan Benih Tanaman Kakao (Theobroma cacao L). Keputusan Mentan RI No. 25/Kpts/KB.020/5/2017, Jakarta, 80 hal.

Meursing, E.H. 1999. Cocoa mass, cocoa butter, cocoa powder. In Industrial chocolate manufacture and use (pp. 70-82). Boston, MA: Springer US.

Munarso, S.J. 2016. Penanganan pascapanen untuk peningkatan mutu dan daya saing komoditas kakao. Jurnal Litbang Pertanian, 35(3), 111-120.

Musanif, J., Sadaruddin, Magdalena, E., Fahmy, N., Simanjuntak, R., Nurlaily dan Lastanto, J.A. 2013. Sehat dengan Romantis Cokelat. Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Kementerian Pertanian. 29 hal.

Prawoto, A.A. 2009. Pemangkasan dalam Panduan Lengkap Kakao Manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir oleh Wahyudi, T., T.R. Panggabean, dan Pujiyanto, 2009. Penebar Swadaya. Jakarta hal.123-132.

Rival, A. 2018. Sustainable plantation management: Conciliating plantation crops and sustainable development goals. [Abstract]. In: International Conference on Agribusiness Food & Agro-Technology (ICAFAT), Medan 20 Sep 2018, 10.

Rubiyo, R. dan Siswanto, S. 2012. Peningkatan Produksi dan Pengembangan Kakao (Theobroma cacao L.) di Indonesia. Buletin RISTRI Vol 3 (1) 2012.

Senna, A.B. 2020. Pengolahan pascapanen pada tanaman kakao untuk meningkatkan mutu biji kakao. Jurnal Triton, 11(2), 51-57.

Setiyono, R. 2014. Bahan Tanaman Unggul Mendukung Bioindustri Kakao. Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar, Sukabumi, IAARD Press Publisher, hal 2-14.

Sharif, N., Ghafoor, S., and Qamar, F. 2015. Chocolate consumption in children and adults. Arch. Med, 7, 1-4.

Sinuhaji, A. 2010. Profil Pertanian Kabupaten Karo. Pemerintahan Kabupaten Karo Dinas Pertanian dan Perkebunan Sumatera Utara.

Siregar, T.H.S., Riyadi, S. dan Nuraeni, L. 2014. Budidaya, Pemasaran, dan Pengolahan Cokelat. Penebar Swadaya, Jakarta. 170 p.

Sitohang, N. 2020. Pemupukan N.P.K.Ca.Mg Berimbang untuk Meningkatkan Hasil Kakao (Theobroma cacao L) Klon TSH 858. Disertasi. Pascasarjana USU Medan.

Sormin, G. 2012. Tapanuli Utara Dalam Angka 2012. Badan Pusat Statistik Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Tamrin, S.P. 2023. Katekin Biji Kakao (Antioksidan untuk Pangan Fungsional dan Penurunannya dalam Proses Pengolahan). Deepublish Yogyakarta. 29 hal.

Uchoi, A., Shoba, N., Balakrishnan, S., Gopal, N.O. and Uma, D. 2018. Impact of canopy management on flowering and yield attributes of cocoa (Theobroma cacao L.) under tropical condition of Tamil Nadu. International Journal of Chemical Studies 6(5): 629-633 .

Vliet, J.A.V., Slingerland, M. and Giller, K.E. 2015. Mineral Nutrition of Cocoa Review. Wagenigen University and Research Centre, Plant Production Systems, ISBN 978-94-6257-705-3 57 pp. Wagenigen The Netherland.

Wessel, M. 1987. Shade and Nutrition, in Cocoa (edited by G.A.R. Wood and R.A. Lass, 2008), Fourth Edition, Longman Scientific dan Technical John Wiley & Sons Inc, New York.

Wibawa, A. dan Baon, J.B. 2009. Kesesuaian Lahan, dalam Panduan Lengkap Kakao Manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir oleh Wahyudi T, TR Panggabean, dan Pujiyanto. Penebar Swadaya, Jakarta : 63-73.

Widyasanti, A.A. 2023. Indonesian Cocoa Statistics 2022. Vol 7. ISSN 2714-8440.

Yusianto, Wahyudi, T. dan Sulistyowati, E. 2009. Pascapanen, dalam Panduan Lengkap Kakao Manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir oleh Wahyudi, T., T.R. Panggabean, dan Pujiyanto, 2009. Penebar Swadaya. Jakarta hal.201-266.

Downloads

Published

2026-07-23