LOGOS
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS
<p>Jurnal <strong>Logos</strong> memuat artikel hasil penelitian tentang ilmu Filsafat dan Teologi yang dikaji secara empiris dan sesuai kaidah ilmiah sebagai refleksi kritis yang sistematis atas iman khususnya iman Katolik dengan fokus kajian Teologi, Filsafat, Kajian Sosial, Naluri dan Iman, Teknologi pada Teologi dan Filsafat, Pendidikan Agama dan kepercayaan tentang kebenaran pokok-pokok iman Katolik dalam terang wahyu Ilahi, yaitu tradisi dan Kitab Suci, selanjutnya mengenai pelaksanaan iman dalam hidup sehari-hari. Terbit 2 (dua) kali dalam setahun, Bulan <strong>Januari</strong> dan Bulan <strong>Juli </strong>oleh Fakultas Filsafat Universitas Katolik Santo Thomas . Majalah ini berorientasi pada Nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan ini dimaksudkan sebagai media untuk mengangkat dan mengulas pengalaman manusia dan religius berdasarkan disiplin ilmu filsafat dan teologi serta ilmu-ilmu humaniora yang terkait dengannya</p>en-US[email protected] (Surip Stanislaus)[email protected] (Gonti Simanullang)Kam, 29 Jan 2026 06:59:32 +0100OJS 3.2.1.4http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss60BEREKSISTENSI DI ERA DIGITAL MENELAAH RELEVANSI KONSEP EKSISTENSI KIERKEGAARD
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/6051
<p>In today’s digital era, digital communication technology permeates the world and affects individual attitudes in determining themselves or existing. With its attractiveness and opium, digital communication technology becomes a means that changes the mindset, and determines an individual’s decision to determine himself, how he exists, and unites himself with the world. Therefore, it loses its authenticity as an individual that exists distinctively or authentically. Faced with existential problems like this, the author tries to examine the concept of existence proposed by Kierkegaard, which offers solutions for individuals to exist authentically. Kierkegaard posited three stages of existence: aesthetic, ethical and religious. Of the three stages, the main point emphasized is that man exists based on his free will, based on what he conceptualizes or idealizes. The research method used in this paper is qualitative research in which the author studies related problems proposed in the literatures, then the author draws conclusions by outlining critical notes and solutions to these problems.</p>Apolonaris Ola Suan, Geoferi Letsion Haman, Filemon Naldi Jampong, Idelfonsius Datung
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/6051Kam, 29 Jan 2026 00:00:00 +0100MELAMPAUI BATAS RASIONALITAS
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/6052
<p>Dalam artikel ini, penulis mengelaborasi epistemologi spiritual atau (xuanzhi) yang digagaskan oleh Zhuangzi , salah satu tokoh utama dalam Daoisme klasik. Epistemologi Barat menekankan rasionalitas analitik, logis dan pengalaman empiris sebagai basis pengetahuan, sementara epistemologi Zhuangzi bersifat intuitif, non-konseptual, dan metafisis, yang berakar pada transformasi batin dan penyatuan eksistensial dengan Dao , realitas mutlak yang transpersonal dan tak terkatakan. Melalui penelaahan terhadap konsep-konsep kunci seperti wuzhi “ketidaktahuan tercerahkan”), ganying “resonansi batin”), xu “kehampaan batin”), dan wuwei “tanpa tindakan yang dipaksakan”), penulis menunjukkan bahwa epistemologi Zhuangzi tidak dapat dipisahkan dari kultivasi diri dan keterbukaan terhadap naturalitas alam semesta. Dalam bingkai ini, pengetahuan kemudian bukanlah hasil akumulasi data atau konstruksi logis, melainkan resonansi intuitif antara subjek dan Dao, yang melampaui dualisme antara pikiran dan objek. Di tengah gelombang modernitas yang sering terjebak dalam dikotomi logika Barat, antara rasio dan emosi, antara subjek dan objek, epistemologi Zhuangzi menawarkan jalan alternatif menuju kebijaksanaan: jalan keheningan, pelepasan ego, dan intuisi yang mendalam. Ia mengajak kita untuk membebaskan diri dari belenggu konsep dan penilaian, serta membuka ruang batin yang hening agar Dao dapat mengalir tanpa hambatan. Dengan demikian, epistemologi Zhuangzi bukan hanya relevan sebagai wacana filosofis, tetapi juga sebagai praksis spiritual yang dapat menjawab kegelisahan eksistensial manusia di era kontemporer dan post-truth. Ia mengundang kita untuk merehabilitasi dan menata ulang cara kita memahami pengetahuan, bukan sebagai dominasi atas dunia, melainkan sebagai partisipasi dalam harmoni kosmis yang tak terdefinisikan.</p> <p> </p>Norbertus Nuho Tukan, Yohanes Anjar Donobakti
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/6052Kam, 29 Jan 2026 00:00:00 +0100WARNA MERAH SEBAGAI TANDA KEHIDUPAN YANG DIRAYAKAN DALAM BUDAYA TIONGHOA DAN GEREJA KATOLIK
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/5398
<p>Tulisan ini membahas makna warna merah dalam ritual kematian Tionghoa dan tradisi Gereja Katolik sebagai simbol perayaan atas kehidupan yang sepenuhnya dihidupi. Dalam tradisi Tionghoa, warna merah yang biasanya melambangkan sukacita, keberuntungan, dan kekuatan, digunakan secara khusus dalam pemakaman orang yang meninggal pada usia di atas delapan puluh tahun, sebagai ungkapan syukur atas hidup yang penuh. Sementara itu, dalam tradisi Gereja Katolik, warna merah melambangkan darah Kristus, kemartiran, dan juga kasih Allah. Pertemuan kedua tradisi ini memperlihatkan sebuah dialog inkulturasi yang menegaskan bahwa kematian bukan sekadar peristiwa kehilangan, melainkan juga perayaan hidup yang telah dijalani dengan penuh. Dengan demikian, warna merah menjadi undangan teologis dan spiritual untuk menghidupi hidup secara penuh, syukur, dan berdampak bagi sesama, sebagaimana ditekankan pula oleh refleksi dan ajaran Paus Fransiskus.</p>Barry Ekaputra
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/5398Kam, 29 Jan 2026 00:00:00 +0100KONSEP KEBAJIKAN THOMAS AQUINAS SEBAGAI LANDASAN PARADIGMATIS BAGI MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN KRISTIANI
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/5611
<p>This study aims to analyse Thomas Aquinas’s concept of virtue as a foundation for developing a Christian leadership management model that integrates moral and spiritual dimensions within the context of global challenges. Amid increasing social, economic, and technological complexity, Christian leadership must move beyond efficiency to cultivate character rooted in love, integrity, and responsibility. This study employs a descriptive qualitative method through a literature review of Aquinas’s works, the Catechism of the Catholic Church, and contemporary philosophical and managerial literature. The findings indicate that leaders are ethically motivated by four cardinal virtues—prudence, justice, fortitude, and temperance. Meanwhile, the three theological virtues—faith, hope, and charity—provide spiritual orientation toward moral perfection and union with God. Integrating these two categories of virtues enriches modern management functions—planning, organizing, leading, and controlling—by grounding them in justice, empathy, and compassion. The case study of Saint Óscar Romero illustrates the practical application of virtues in Christian leadership through courage, solidarity, and a deep commitment to human dignity amid social injustice. Therefore, the paradigm of Christian leadership based on Aquinas’s virtue ethics offers an ethical and transformative leadership model centred on the bonum commune (common good), reflecting moral excellence and divine love.</p>Yanto Sandy Tjang, Laurentius Prasetyo, Rosalia Enny Astuti, Anthony Kurniawan Wyatno, Alexander Maruli Tua Sinaga, Vincencia Arnita Muliawati, Vensius Rico Novi Andry
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/5611Kam, 29 Jan 2026 00:00:00 +0100CINTA MANUSIAWI DAN ILAHI HATI YESUS KRISTUS
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/6054
<p><strong> </strong></p> <p>Hati Kudus Yesus adalah Sumber dan Pusat Cinta Allah yang dinyatakan dalam Sang Sabda Kekal yang Mengenakan Daging Insani. Hati Kudus Yesus adalah pusat semua ungkapan kasih dari Kitab Suci yang tertulis dalam daging. Hati Kudus Yesus tidak hanya diimani sebagai cinta yang dinyatakan dalam pemberian (pengabdian dengan pemberian diri tanpa pamrih), tetapi serentak menjadi Sumber Keselamatan dan Kehidupan bagi semua manusia yang sangat dicintai-Nya, yaitu Sumber Air yang memuaskan dahaga umat yang dicintai-Nya. Hati Kudus Yesus adalah Hati Dunia, dasar dan prinsip pemersatu dari semua realitas yang ada di jagat ini. Hati Kudus Yesus, Sumber Air Kesegaran yang memuaskan dahaga semua manusia serta Sumber Rahmat dan Dasar Panggilan Iman menuju perjumpaan yang mendalam dengan Allah, Sang Cinta dan Sumber Cinta. Umat Katolik menyembah Hati Kudus Yesus dalam devosi kepada Hati Kudus-Nya. Dalam iman Katolik, devosi kepada Hati Kudus Yesus merupakan “ringkasan” pengalaman iman, sintesis luhur dari ungkapan iman dan wujud penyembahan kepada Yesus Kristus. Umat Katolik diundang untuk mengangkat dan menyatukan hatinya dengan Hati Kudus Yesus yang Hidup. Dengan berdevosi kepada Hati Kudus Yesus, umat Katolik memberikan ruang perjumpaan dengan-Nya, menyembah-Nya dan akhirnya mengakui bahwa luka di Hati Yesus merupakan akibat dari dosa dan kesalahan semua umat manusia; dosa saya dan dosa kita. Kesadaran iman ini akan membawa penghiburan bagi-Nya serta menggerakkan iman dan kemanusiaan kita untuk melakukan tindakan pemulihan dengan cara: meneruskan Cinta Hati-Nya yang Mahakudus.</p>Alfonsus Ara
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/6054Kam, 29 Jan 2026 00:00:00 +0100DIMENSI ESKATOLOGIS GEREJA YANG BERZIARAH DALAM LUMEN GENTIUM BAB VII
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/6055
<p>Jesus Christ said, “I will come again and take you to myself, so that where I am, you also may be” (John 14:3). He established His Church in this world (Matthew 16:18) and guides it by the Holy Spirit toward eternal life in His Kingdom in Heaven. In this world, Christ’s Church is called the Pilgrim Church (LG 49). Therefore, this discussion seeks to explore the eschatological dimension of the Pilgrim Church and the elements that lead it toward the Kingdom of God in Heaven, using the documents of the Second Vatican Council, particularly <em>Lumen Gentium</em>, Chapter VII, and its commentaries, along with various other written sources as references in this study</p>Triman Sihura, Lagus Nadeak
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/6055Kam, 29 Jan 2026 00:00:00 +0100KESETIAAN & PENGHARAPAN DALAM KRISIS PANGGILAN KENABIAN
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/6074
<p>Realitas hidup imam dan calon imam masa kini ditandai dengan berbagai dinamika dan tantangan yang kompleks, baik secara sosial, kultural maupun spiritual. Dalam konteks dunia yang semakin sekuler, individualistik dan relativisme moral, mereka dituntut untuk mempertahankan kesetiaan pada panggilan ilahi di tengah tekanan batin, godaan duniawi dan ketidakpastian arah hidup yang menimbulkan krisis identitas dalam menjalani hidup imamat. Perikop Yer 15:10-21 menggambarkan pergulatan batin Nabi Yeremia dalam menghadapi penderitaan dan penolakan akibat panggilan kenabiannya. Meskipun mengalami keputusasaan, Allah meneguhkan kesetiaan-Nya dengan janji perlindungan dan pemulihan. Teks ini memerhatikan keteguhan iman dalam penderitaan serta pengharapan akan pemulihan berdasarkan janji ilahi. Yeremia menghadapi perlawanan dari bangsanya yang menguji kesetiaannya, tetapi Allah memberikan jaminan bahwa penderitaan tersebut merupakan bagian dari panggilan kenabiannya. Janji perlindungan ini diwujudkan melalui metafora “tembok tembaga yang kuat,” yang merepresentasikan ketahanan dan perlindungan ilahi bagi mereka yang tetap setia. Dalam perspektif Gereja, perikop ini memiliki relevansi teologis yang mendalam. Dokumen <em>Lumen Gentium</em> menegaskan bahwa Gereja sebagai umat Allah dipanggil untuk setia dalam perutusannya meskipun menghadapi tantangan. <em>Gaudium et Spes</em> menyoroti bahwa penderitaan Yeremia mencerminkan realitas dunia yang penuh ketidakadilan, mengajak umat beriman untuk menjadi utusan transformasi sosial. <em>Evangelii Gaudium</em> menekankan pentingnya evangelisasi yang tetap bersemangat meskipun menghadapi berbagai hambatan, sedangkan <em>Fratelli Tutti</em> menghubungkan pengalaman Yeremia dengan panggilan untuk membangun persaudaraan dan solidaritas. Relevansi perikop ini bagi imam dan calon imam terletak pada makna panggilan imamat yang sering kali disertai tantangan dan penderitaan. Kesetiaan dalam menghadapi kesulitan menjadi kunci dalam menjalankan panggilan ilahi, dengan janji penyertaan Tuhan sebagai jaminan perlindungan dan kekuatan spiritual</p>Surip Stanislaus, Parningotan Kevin Mahulae
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/6074Kam, 29 Jan 2026 00:00:00 +0100IMAM SEBAGAI SAHABAT DAN PELAYANAN: KEPEMIMPINAN IMAMAT DALAM SEMANGAT KASIH DAN SINODALITAS
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/5468
<p>Tulisan ini mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana kepemimpinan imamat dapat dihidupi dalam semangat sinodalitas. Tujuannya adalah menegaskan identitas imam bukan hanya sebagai pelayan liturgis atau pengelola pastoral, melainkan sebagai sahabat dan pelayan umat Allah yang mencerminkan Kristus Sang Gembala Baik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan kajian teologis-literer melalui analisis dokumen magisterium, refleksi teologis, dan tulisan pastoral. Kerangka pemikiran dibangun dengan mengintegrasikan wawasan dari Presbyterorum Ordinis, Komisi Teologi Internasional, Paus Fransiskus, serta sejumlah pemikir kontemporer. Hasilnya menunjukkan bahwa imamat sejati tidak dapat direduksi pada otoritas klerikal, melainkan harus dijalankan sebagai kepemimpinan yang relasional, ditandai dengan sikap mendengarkan, berdialog, rendah hati, dan hidup dalam persaudaraan. Dalam terang ini, imam dipanggil menolak klerikalisme dan individualisme serta menghadirkan pelayanan yang membangun kepercayaan dan menumbuhkan sinodalitas. Dengan demikian, pelayanan imamat menjadi kesaksian persahabatan dan pengabdian yang mencerminkan kehadiran Kristus yang penuh kasih. Pembaruan kepemimpinan imamat dalam kunci sinodal sangat mendesak bagi misi Gereja masa kini agar imam sungguh menjadi jembatan, fasilitator, dan sahabat bagi umat Allah.</p>Christian Aldo K Kusuma
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/5468Kam, 29 Jan 2026 00:00:00 +0100PENGHAYATAN PERSAUDARAAN PARA CALON IMAM DI SEMINARI MENENGAH CHRISTUS SACERDOS PEMATANGSIANTAR
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/6075
<p>Tulisan ini membahas pentingnya penghayatan hidup persaudaraan sejak dini bagi calon imam di Seminari Menengah <em>Christus Sacerdos </em>Pematangsiantar (SMCSP)<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a>. Dalam Gereja Katolik, hidup persaudaraan merupakan aspek kunci dalam pembinaan calon imam, mencerminkan nilai kebersamaan dan kasih kristiani. Menggunakan pendekatan kualitatif lewat studi kepustakaan dan penelitian lapangan, penelitian ini mengkaji dokumen Gereja serta mewawancarai calon imam dan pendamping untuk memahami praktik dan tantangan hidup persaudaraan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persaudaraan sejati tidak hanya soal hidup bersama, tetapi juga membangun relasi yang mendalam, ditopang oleh kehidupan doa pribadi dan komunitas. Tantangan seperti individualisme, perbedaan karakter, dan dampak modernisasi menjadi hambatan yang harus dihadapi melalui komunikasi efektif dan pendampingan intensif. Kesimpulannya, penghayatan hidup persaudaraan yang kuat sejak dini membentuk imam yang mampu membangun komunitas umat yang penuh kasih dan harmonis. Maka, pembinaan persaudaraan harus menjadi prioritas dalam pendidikan calon imam.</p> <p> </p>Sumardiono Sihombing
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/6075Kam, 29 Jan 2026 00:00:00 +0100PENGALAMAN PELAYAN PASTORAL CARE ORANG SAKIT DI RUMAH SAKIT
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/6076
<p>Pelayan pastoral <em>care </em>orang sakit adalah bagian dari misi Gereja untuk pewartaan Kerajaan Allah. Gereja hadir mengikuti teladan Yesus yang berjalan dari kota-kota untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang sakit. Gereja melalui karya rumah sakit mengaplikasikan semangat kasih dari Yesus untuk menyembuhkan orang sakit. Pelayan pastoral <em>care</em> orang sakit berperan aktif melayani mereka yang sakit dan menderita di rumah sakit. Sentuhan kemanusiaan dan perhatian penuh kasih kepada mereka yang sakit akan mendorong pasien tetap kuat dan menerima keadaan. Pelayan pastoral <em>care</em> orang sakit berusaha untuk menyediakan pelayanan yang <em>holistic</em> di rumah sakit. Pelayanan yang <em>holistic</em>, bukan hanya kesehatan tetapi seluruh kesejahteraan pasien secara sosial, emosional, spiritual dan bantuan finansial. Pelayan pastoral <em>care</em> harus membangun rasa percaya melalui kehadiran yang penuh perhatian, belas kasih dan <em>compassion</em> bagi pasien, keluarga, tenaga medis dan dokter. Para pelayan pastoral <em>care</em> orang sakit di rumah sakit tentu memiliki pengalaman yang bermakna. Penulis memilih lima orang partisipan yang pernah atau sedang bekerja sebagai pelayan pastoral <em>care</em> orang sakit di rumah sakit. Penulis melihat bahwa pengalaman para partisipan dapat dijadikan sebagai objek penelitian dengan pendekatan fenomenologis Moustakas, bagian dalam metode penelitian kualitatif. Penulis mendeskripsikan beberapa teori yang mendukung penelitian ini, seperti deskripsi atas pastoral <em>care</em> orang sakit, dasar Alkitab pelayanan pastoral <em>care</em>, layanan dan tugas pelayan pastoral <em>care</em> orang sakit dan hal penting dalam pelayanan pastoral <em>care</em> orang sakit di rumah sakit. Kajian dari pengalaman dan maknanya diproses dalam beberapa fase: yaitu wawancara, transkrip hasil wawancara, reduksi fenomenologis (horizonalisasi), identifikasi pernyataan signifikan, klaster unit makna, deskripsi tekstual dan struktural komposit, dan sintesis dalam integrasi intuitif. Dari analisis penelitian, penulis melihat bahwa para partisipan menyadari pengalaman mereka sebagai pelayan pastoral <em>care</em> orang sakit di merupakan panggilan jiwa dari Allah untuk melayani pasien, keluarga, tenaga medis dan dokter. Pengalaman tersebut selaras dengan pelayanan pastoral <em>care</em> orang sakit yang bersifat holistik. Partisipan menyadari bahwa pelayanan akan lebih diterima melalui dialog kebudayaan dengan sapaan bahasa daerah. Pengalaman ini tidak hanya sebagai tugas dari kongregasi dan rumah sakit tetapi lebih hakiki yakni pelayanan kemanusiaan sebagai wujud nyata dari kasih Allah.</p>Firdaus Depari, Gonti Simanullang
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by/4.0
https://ejournal.ust.ac.id/index.php/LOGOS/article/view/6076Kam, 29 Jan 2026 00:00:00 +0100