https://ejournal.ust.ac.id/index.php/Rajawali/issue/feed RAJAWALI 2026-05-06T19:20:39+00:00 Open Journal Systems <p>Rajawali adalah Jurnal Filsafat yang memuat kajian akademik tentang proses mencari kebenaran mulai dari manusia berspekulasi dengan pemikirannya tentang semua hal, selanjutnya dari berbagai spekulasi disaring menjadi beberapa buah pikiran yang dapat diandalkan. dan buah pikiran tadi menjadi titik awal dalam mencari kebenaran (penjelajahan pengetahuan yang didasari kebenaran), kemudian berkembang sebagai ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, hukum, politik, dan lain-lain.</p> https://ejournal.ust.ac.id/index.php/Rajawali/article/view/6389 MENJADI MANUSIA BERKEUTAMAAN 2026-05-06T18:43:08+00:00 Benigno Nainggolan [email protected] Surip Stanislaus [email protected] <p>Artikel ini mengeksplorasi relevansi etika keutamaan dalam pembentukan karakter kaum muda dewasa ini. Di tengah tantangan masyarakat algoritma yang memicu mentalitas instan, eksploitasi perhatian, dan masalah psikologis seperti FOMO, kaum/orang muda memerlukan disposisi batin yang stabil untuk menemukan jati diri dan kebahagiaan sejati. Menggunakan metode studi kepustakaan, tulisan ini menggali pemikiran Aristoteles mengenai “jalan tengah” (<em>golden mean</em>) dan mekanisme pembiasaan (<em>habituasi</em>) untuk mencapai keunggulan jiwa. Selain itu, artikel ini mengintegrasikan gagasan Thomas Aquinas mengenai keutamaan kardinal (kebijaksanaan praktis, keadilan, keberanian, dan penguasaan diri) serta keutamaan teologal sebagai penyempurna kodrat manusia. Artikel ini berupaya&nbsp; menunjukkan bahwa etika keutamaan menawarkan suatu etika praktis bagi kaum muda untuk menjadi subjek yang bebas, rasional, dan bijaksana dalam berinteraksi dan beradpatasi dengan teknologi, sehingga mereka tidak sekadar dikuasai oleh arus digital tetapi mampu mencapai kepenuhan hidup yang berkeutamaan dan bermakna.</p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 RAJAWALI https://ejournal.ust.ac.id/index.php/Rajawali/article/view/6390 EXISTENTIAL SUPERNATURAL 2026-05-06T18:53:55+00:00 Asido Sidabariba [email protected] Raidin Sinaga [email protected] <p>Artikel ini mengeksplorasi hubungan teologis antara kodrat (<em>nature</em>) dan rahmat (<em>grace</em>) melalui pemikiran Karl Rahner, dengan berfokus pada konsepnya tentang “eksistensial supernatural” (<em>Supernatural Existential</em>). Secara historis, wacana mengenai kodrat dan rahmat telah berkembang dari dasar-dasar biblis dan patristik hingga mencapai rumusan dogmatis yang definitif dalam Konsili Trente. Perspektif Rahner muncul sebagai kritik terhadap “ekstrinsisisme” Neo-Skolastik yang memandang rahmat sebagai tambahan eksternal atas kodrat manusia yang berdiri sendiri, serta terhadap beberapa penafsiran lain yang berisiko meleburkan keduanya menjadi satu entitas natural. Rahner mengajukan bahwa manusia bukanlah makhluk netral, melainkan sejak awal secara fundamental dan ontologis terarah kepada Allah. “Eksistensial supernatural” ini menunjukkan bahwa meskipun rahmat tetap merupakan anugerah bebas dari Allah, rahmat itu juga merupakan unsur konstitutif dalam struktur manusia yang memungkinkan pengalaman transendental akan Yang Ilahi dalam kehidupan sehari-hari. Lebih lanjut, artikel ini menelaah implikasi teologi tersebut dalam mencakup orang-orang non-Kristen &nbsp;melalui orientasi inheren mereka terhadap “Horizon Tak Terbatas” Allah. Pada akhirnya, sintesis Rahner menjembatani perspektif antropologis dan kristologis, dengan menampilkan rahmat sebagai komunikasi diri Allah yang mengubah eksistensi manusia dari dalam.</p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 RAJAWALI https://ejournal.ust.ac.id/index.php/Rajawali/article/view/6391 MENELAAH REALITAS SIMULASI, SIMULACRA, DAN HYPERREALITAS MENURUT JEAN BAUDRILLARD DALAM HUBUNGANNYA DENGAN KECENDERUNGAN KONSUMTIF MASYARAKAT POST MODERN 2026-05-06T19:01:31+00:00 Eduardus Riberu [email protected] <p>Tulisan ini mengkaji konsep simulasi, simulacra, dan hyperrealitas menurut Jean Baudrillard serta relevansinya terhadap kecenderungan konsumtif masyarakat postmodern. Dengan pendekatan filosofis, artikel ini menjelaskan bahwa dalam masyarakat kontemporer, realitas tidak lagi dipahami berdasarkan nilai guna, melainkan sebagai sistem tanda dan simbol yang membentuk cara pandang manusia. Proses simulasi menghasilkan simulacra yang memutus hubungan dengan realitas asli dan berujung pada hyperrealitas, yaitu kondisi di mana realitas semu justru dianggap lebih nyata daripada kenyataan. Fenomena ini diperkuat oleh peran media massa dan media sosial yang membentuk kesadaran serta mendorong perilaku konsumtif. Tulisan ini menegaskan pentingnya sikap kritis agar manusia tidak terjebak dalam manipulasi realitas yang dihasilkan oleh sistem tanda dalam masyarakat postmodern.</p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 RAJAWALI https://ejournal.ust.ac.id/index.php/Rajawali/article/view/6392 TRILOGI SILIH DAN KITAB SIRAKH 2026-05-06T19:11:01+00:00 Vincentius Januardi [email protected] Surip Stanislaus [email protected] <p>Artikel ini mengkaji perbandingan antara trilogi filsafat Sunda <em>Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh</em> (saling mencerdaskan, saling mengasihi, dan saling memelihara) dengan ajaran kebijaksanaan yang terdapat dalam Kitab Sirakh (<em>Ben Sira</em>). Dengan menggunakan metode kualitatif-komparatif melalui pendekatan hermeneutik terhadap teks dan studi kepustakaan, penelitian ini mengidentifikasi titik-titik konvergensi dan divergensi yang signifikan antara kedua tradisi kebijaksanaan tersebut. Kedua tradisi ini sama-sama memiliki orientasi komunal yang menempatkan relasi antarmanusia sebagai inti kebijaksanaan: keduanya menekankan pengajaran timbal balik, persahabatan yang tulus, serta perlindungan terhadap mereka yang rentan. Namun, keduanya berbeda dalam dasar terakhirnya: kebijaksanaan Sunda berakar pada tradisi leluhur dan harmoni kosmis, sedangkan Kitab Sirakh mendasarkan seluruh kebijaksanaan pada takut akan Allah (Sir 1:14) sebagai sumber dan puncak kehidupan yang benar. Penelitian ini menunjukkan bahwa kedua tradisi tersebut, meskipun lahir dari konteks geografis dan historis yang berbeda, mencerminkan suatu kebijaksanaan universal yang melampaui batas-batas budaya dan agama, serta dapat menjadi dasar bagi dialog antara budaya lokal dan iman Kristen.</p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 RAJAWALI https://ejournal.ust.ac.id/index.php/Rajawali/article/view/6393 GAGASAN TOLERANSI LOCKE 2026-05-06T19:20:39+00:00 Johannes Martin Saragih [email protected] Triman Sihura [email protected] <p>Realitas kemajemukan agama dan meningkatnya fenomena intoleransi berbasis agama di Indonesia, baik dalam bentuk kekerasan, diskriminasi, maupun politik identitas, menjadi sebuah diskursus yang relevan dan urgen untuk dibahas. Melalui analisis historis-filosofis terhadap pemikiran John Locke mengenai toleransi dalam <em>A Letter Concerning Toleration</em>, prinsip-prinsip toleransi sebagai fondasi moderasi beragama dapat dibangun dengan baik dalam diri setiap individu masyarakat Indonesia, sehingga masalah intoleransi di Indonesia dapat diatasi. Prinsip-prinsip tersebut berupa paham mengenai agama sebagai penata kehidupan moral, pemisahan tegas antara kepentingan agama dan kepentingan sipil, kebebasan beragama sebagai hak dasar manusia, iman sebagai hasil pertimbangan rasional dan kesadaran batiniah, serta batas toleransi terhadap praktik keagamaan yang mengancam kepentingan sipil. Gagasan-gagasan ini patut dikontekstualisasikan dalam realitas Indonesia dengan menyoroti kasus-kasus intoleransi dan kerangka konstitusional negara, sehingga terbentuklah dasar yang kokoh bagi moderasi beragama di Indonesia.</p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 RAJAWALI