https://ejournal.ust.ac.id/index.php/Rajawali/issue/feedRAJAWALI2025-10-23T09:45:41+02:00Open Journal Systems<p>Rajawali adalah Jurnal Filsafat yang memuat kajian akademik tentang proses mencari kebenaran mulai dari manusia berspekulasi dengan pemikirannya tentang semua hal, selanjutnya dari berbagai spekulasi disaring menjadi beberapa buah pikiran yang dapat diandalkan. dan buah pikiran tadi menjadi titik awal dalam mencari kebenaran (penjelajahan pengetahuan yang didasari kebenaran), kemudian berkembang sebagai ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, hukum, politik, dan lain-lain.</p>https://ejournal.ust.ac.id/index.php/Rajawali/article/view/5599FRANSISKUS DAN EKOLOGI2025-10-23T09:15:46+02:00Benigno Nainggolan[email protected]Surip Stanislaus[email protected]<p>Artikel ini membahas tentang antroposentrisme sebagai akar dari problematika ekologis. Antroposentrisme melahirkan praktik eksploitasi berlebihan. Terhadap akar masalah ini, penulis mengajukan suatu semangat atau spiritualitas persaudaraan ekologis yang terdapat dalam Kidung Saudara Matahari. Kidung ini adalah gubahan dari Fransiskus Assisi, sosok teladan dalam menampilkan semangat persaudaraan universal. Semangat tersebut mengungkapkan hubungan mendalam antara manusia, alam semesta dan Allah. Semangat ini selaras dengan gagasan ekologi/ekosentrisme sekaligus melampauinya;melampaui ekosentrisme yang berada pada tataran filosofis. Sementara semangat persaudaraan universal mengandung visi antropologi yang bernuansa spiritual-teologis yang mendalam. Pengentasan masalah ekologis tidak cukup hanya dengan mengusahakan upaya-upaya teknis. Dibutuhkan solusi yang lebih mengakar yakni perihal paradigma. Paradigma Menuju persaudaraan ekologis-universal yang diawali dengan pertobatan ekologis dan transformasi spiritual.</p>2025-10-23T00:00:00+02:00Copyright (c) 2025 RAJAWALIhttps://ejournal.ust.ac.id/index.php/Rajawali/article/view/5600EKOTEOLOGI KRISTEN DALAM GITA SANG SURYA2025-10-23T09:22:24+02:00Martinus Manullang[email protected]Raidin Sinaga[email protected]<p>Tulisan ini hendak merefleksikan krisis ekologi yang terjadi pada masa sekarang yang tidak hanya berakar pada problem pengelolaan, tetapi juga krisis spiritualitas manusia. Dalam semangat ekoteologi Kristen, artikel ini mendalami bagaimana ajaran Gereja, serta semangat Fransiskan, khususnya dalam Gita Sang Surya, yang digubah oleh Fransiskus dari Asisi. Gita Sang Surya merupakan ungkapan mistik kosmik atas pewahyuan Allah yang mengajak kita untuk bersyukur dan bertanggung jawab. Dengan menggali makna teologi penciptaan, inkarnasi, dan misteri Trinitas, tulisan ini memperlihatkan bagaimana Fransiskus menghayati kemiskinan radikal, persaudaraan universal, serta solidaritas terhadap seluruh ciptaan. Pada akhirnya artikel ini menegaskan bahwa ekoteologi kristen merupakan panggilan hidup untuk membangun spiritualitas ekologis yang berakar pada iman, kasih, dan syukur, sehingga manusia dapat merawat bumi sebagai rumah bersama.</p>2025-10-23T00:00:00+02:00Copyright (c) 2025 RAJAWALIhttps://ejournal.ust.ac.id/index.php/Rajawali/article/view/5601MERAWAT BUMI DALAM SEMANGAT GITA SANG SURYA2025-10-23T09:28:27+02:00Konradus Laia[email protected]Largus Nadeak[email protected]<p>Artikel ini membahas spiritualitas ekologi dalam terang <em>Gita Sang Surya</em> Santo Fransiskus dari Assisi serta relevansinya bagi upaya merawat bumi pada masa kini. Fransiskus memandang seluruh ciptaan sebagai saudara dan saudari yang harus dihormati, bukan sekadar objek untuk dimanfaatkan. Pandangan ini berakar pada kesadaran iman bahwa seluruh makhluk berasal dari tangan Allah yang sama. Melalui himne <em>Nyanyian Saudara Matahari</em>, Fransiskus mengajarkan kesatuan antara surga, bumi, dan manusia dalam satu harmoni ciptaan. Artikel ini juga menyoroti konsep ekologi integral sebagaimana dipaparkan dalam ensiklik <em>Laudato Si’</em>, yang menekankan keterkaitan erat antara krisis sosial dan krisis ekologis. Dengan demikian, merawat bumi berarti sekaligus memperjuangkan keadilan sosial dan martabat manusia. Pada akhirnya, menghidupi semangat <em>Gita Sang Surya</em> di era krisis iklim menjadi panggilan nyata bagi setiap insan untuk bertobat secara ekologis, menjaga rumah bersama, dan mewariskan harapan hijau bagi generasi mendatang.</p>2025-10-23T00:00:00+02:00Copyright (c) 2025 RAJAWALIhttps://ejournal.ust.ac.id/index.php/Rajawali/article/view/5602POLITIK YANG BERKEUTAMAAN MENURUT THOMAS AQUINAS2025-10-23T09:40:43+02:00Adri Eygiya Sitepu[email protected]Surip Stanislaus[email protected]<p style="margin: 0cm; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"><span lang="IN" style="font-family: 'Georgia',serif;">Manusia adalah makhluk berpolitik (<em>zoon politikon</em>), karena politik merupakan bagian dari kodrat sosialnya. Melalui politik, manusia menata kehidupan bersama demi mencapai kebahagiaan. Menurut Thomas Aquinas, politik adalah kegiatan luhur yang bukan hanya mengatur masyarakat, tetapi juga menjadikan manusia lebih manusiawi. Untuk mencapai tujuan kodratnya, manusia membutuhkan rahmat Allah dan bimbingan Gereja agar politik dijalankan sesuai kehendak-Nya. Politik harus berlandaskan semangat religius dengan nilai keutamaan moral dan teologal. Kebaikan politik tidak hanya lahir dari usaha manusia, tetapi juga dari rahmat ilahi yang menyempurnakannya dalam kehidupan bersama.</span></p>2025-10-23T00:00:00+02:00Copyright (c) 2025 RAJAWALIhttps://ejournal.ust.ac.id/index.php/Rajawali/article/view/5603KECAMAN PAULUS TERHADAP PERCABULAN2025-10-23T09:45:41+02:00Herkulanus Dino[email protected]Hendrikus Ngambut [email protected]<p>Dewasa ini permasalahan seksual memperlihatkan bahwa tubuh kerapkali menjadi komoditas dan direduksi untuk kenikmatan semata. Tubuh dijadikan objek kesenangan pribadi tanpa menyadari misteri Allah yang tersembunyi di dalamnya. Salah satu masalah dalam hubungan seks yang cukup meresahkan masyarakat adalah percabulan. Kenyataan tersebut mengungkapkan bahwa di zaman ini masih terjadi kekaburan makna pada seksualitas, sehingga tak jarang manusia baik itu laki-laki maupun perempuan lebih mengutamakan kenikmatan tubuh. Seksualitas adalah anugerah ilahi yang sakral, kuat, dan mendalam, yang dirancang untuk membawa manusia pada persatuan dan kesempurnaan. Namun ketika disalahgunakan dalam bentuk percabulan, seksualitas dapat mencemarkan tubuh dan merusak jiwa. Dalam 1Kor 5:1-13 Paulus menegaskan bahwa percabulan bukan sekadar dosa moral, tetapi juga dosa terhadap diri sendiri, karena menyentuh hakikat terdalam dari keberadaan manusia sebagai laki-laki dan perempuan. Percabulan menghancurkan kehidupan rohani, melumpuhkan kepekaan terhadap Allah, dan mengganggu hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama. Fenomena ini tidak hanya berdampak secara individu, tetapi juga berkontribusi pada degradasi moral dalam masyarakat. Oleh karena itu, solusi utama untuk mengatasi percabulan adalah menempatkan kembali tubuh dan jiwa dalam kasih Allah yang sejati, yang mampu mengarahkan manusia kepada kekudusan dan pemulihan diri. Kajian ini berupaya memahami makna dan implikasi ajaran Paulus mengenai percabulan serta relevansinya dalam konteks kehidupan modern, khususnya dalam menghadapi tantangan amoralitas seksual di era kontemporer.</p>2025-10-23T00:00:00+02:00Copyright (c) 2025 RAJAWALI